7 Hal yang Perlu Disadari Untuk Membangun Karier di Esports

esport

Buat Anda yang ingin jadi beberapa pekerja di esports, baik untuk yang belum atau telah memiliki pengalaman. Salah satunya pertanyaan yang sering saya dengar ialah “bagaimana triknya supaya saya dapat berkarier di esports?” Seringkali saya memperoleh pertanyaan ini baik saat waktu saya jadi pembicara atau lewat chat.

Di lain sisi, bila pertanyaan barusan kemungkinan seringkali dilemparkan buat mereka-mereka yang baru lulus atau tidak pernah bekerja bersama sekali, saya seringkali temukan beberapa profesional dari industri lain yang berubah ke industri esports tetapi bergerak keluar dari industri ini walau baru sesaat.

Oleh karena itu artikel ini saya bikin untuk menolong mereka-mereka, baik yang tidak pernah kerja atau beberapa pekerja dari industri lain, lebih jauh kenal industri esports — sebelum sudah terburu basah.

Oh ya, artikel ini diperuntukkan buat Anda yang ingin membuat profesi di esports tetapi bukan jadi pro player. Anda dapat membaca artikel kami yang lain bila harapan Anda ialah jadi pemain profesional serta diambil team esports.

Paling akhir, sebelum kita masuk ke bahasan, sejumlah besar dari artikel ini ialah pendapat saya pribadi tetapi saya minta opini dari beberapa kawan saya mengenai perjalanan profesi mereka di esports. Tetapi saya tidak mengatakan nama mereka di sini sebab kemungkinan peka dengan perubahan profesinya semasing.

In Esports It’s Not Always Rainbows and Butterflies

Saya anggap berikut hal pertama yang perlu diakui buat kesemua orang, terhitung untuk mereka yang di luar industri esports serta game. Kenyataannya, buat saya pribadi, tidak ada pekerjaan yang gampang serta menyenangkan seperti surga yang penuh dengan bidadari.

Mengapa? Sebab yang namanya pekerjaan tentu ada sasaran yang perlu diraih serta rintangan yang perlu dituntaskan. Bila Anda merasakan pekerjaan Anda sekarang gampang, menyenangkan, serta tanpa ada rintangan, kemungkinan Anda kerja seenak perut… Masalahnya saya yakin jika pekerja yang baik ialah mereka-mereka yang coba melebihi capaian-capaian paling baik mereka awalnya.

Sedang detil untuk industri esports serta game, sehubungan saya memang dari jaman fresh graduate di tahun 2008 telah kerja pada media & game, lontaran yang seringkali saya dengar ialah “enak ya kerja di industri game. Kerjanya main game.” Silahkan yakin saya atau mungkin tidak tetapi fakta itu tidak pernah seindah yang dipikirkan. Jangankan industri game, industri pornografi pun tidak seindah yang kelihatannya… Sepertinya sih… Wkwkkwakawk…

Ini saya simpan pertama sebab saya ketahui banyak orang menekuni di sini sebab memang senang dengan game serta esports. Saya sendiri gamer serta masih bermain game 2-4 jam sehari-harinya. Tetapi bermain game dengan arah sebatas bermain serta dengan arah ulasan atau analisa itu kenyataannya memang tidak sama rasa-rasanya.

Memang, saya tidak menihilkan kesenangan serta nikmat yang dapat diperoleh waktu dapat kerja di industri yang sesuai dengan hoby. Tetapi seperti kata Maroon 5, “it’s not always rainbows and butterflies.” Berikut yang perlu untuk diakui pertama-tama buat semua yang ingin membuat profesi di esports. Bila Anda cuma ingin bersenang-senang tanpa ada berusaha semaksimal mungkin di sini, industri esports serta game tidak perlu Anda. Plus, kemungkinan, Anda pun tidak sukses di sini.

Pick your poison, with passion

Saya sebetulnya pernah tuliskan ini panjang lebar awalnya. Tetapi saya anggap ini masih penting untuk diakui buat yang ingin membuat profesi di sini. Cukup banyak beberapa orang yang terjun ke esports dengan cuma bermodal spirit, tanpa ada arah expertise yang pasti.

Sebelum salah kaprah, saya pun tidak menihilkan utamanya fungsi spirit dalam membuat profesi. Kenyataannya, saat kita senang dengan seorang, tanpa ada dibayar atau serta dilarang, kita umumnya nekat untuk dekati atau minimal memelajari orang itu lebih jauh. Demikian dengan bagian yang kita tekuni dengan profesional. Walau demikian, spirit hanya dasar fundamen semata-mata dalam membuat profesi. Cukup banyak beberapa orang yang serta tidak merekomendasikan untuk menekuni profesi yang berbasiskan pada spirit.

Saya anggap ini berlaku (serta kemungkinan bermanfaat) di semua faktor hidup, sering-seringlah mengerti hidup supaya tidak terpengaruh dengan keterasingan diri. Buat saya, mengerti kelebihan serta kekurangan diri ialah hal penting yang perlu dikerjakan di tiap faktor hidup

Sayangnya, di esport, cukup banyak pekerja, pelacak kerja, atau justru pemberi pekerjaan yang cuma mengutamakan pada minat di game serta esports tanpa ada tuntutan ketrampilan yang pasti atau detil.

Di lain sisi, saya sebetulnya yakin tiap manusia sebetulnya dapat belajar ketrampilan apa saja yang kita kehendaki. Tetapi, tiap orang perlu waktu yang berlainan untuk memelajari ketrampilan yang berlainan. Walau sebenarnya, waktu menyesuaikan serta belajar ialah tuntutan profesional yang, buat saya, jadi salah satunya prioritas paling tinggi. Dalam kata lain, bila Anda lambat belajar di satu bagian, kemungkinan lebih baiknya Anda cari karier lain yang sesuai ketrampilan.

Behind the bling-bling of esports

Dengan megahnya panggung, berkilau lampu, serta dentuman suara kencang di tiap moment esports, kemungkinan memang membuat industri esports kelihatan lebih istimewa dari aslinya. Walau sebenarnya, dibalik megahnya tiap moment esports, ada beberapa orang yang dibayar dengan biaya recehan — seperti observer serta referee yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu.

Cukup banyak teman-teman saya di sini yang upahnya benar-benar terbatas, dibawah atau di rata-rata UMR Jakarta walau telah beberapa waktu di sini. Di satu bagian, survivorship bias itu tetap berada di industri mana juga. Kita memang lebih condong lihat serta ambil contoh dari beberapa orang yang sukses di industri itu serta tidak lihat seberapa banyak yang tidak berhasil.

Tetapi di lain sisi, sebenarnya, industri esport sekarang memanglah belum mempunyai sumber penghasilan yang sustainable. Sejumlah besar atau serta seluruhnya (bila di Indonesia), penghasilan di industri ini hadir dari sponsor. Karena itu, rotasi uang di industri ini belum juga luas serta cepat. Douglas Rushkoff yakin jika kunci keberhasilan satu industri ialah velocity of the money (bagaimana triknya supaya uang terus berputar-putar antar aktor satu dengan lainnya) serta saya mengamini hal itu. Nilai industri ini di Indonesia sebetulnya kalah jauh dengan industri lain yang telah terlebih dulu masak.

Memang, satu hal yang tidak kalah penting untuk diakui, sama dengan seperti industri yang lain — minimal dari industri yang legal di Indonesia — jangan mengharap Anda dapat mendadak kaya raya dari industri esports. Jangan mengharap Anda dapat memperoleh upah besar bila pengalaman Anda masih minimalis atau tempat Anda bikin perusahaan masih mudah tergantikan.

There is no such thing as easy kills

Tidak hanya masalah ‘enak’ barusan, cukup banyak beberapa orang pemula yang memandang industri game serta esports itu gampang. Menurut saya pribadi, kenyataannya, tidak ada yang gampang bila pembelajarannya ingin ke tingkat profesional — baik itu dari bagian industri yang ditekuni atau profesinya.

Contohnya masalah lingkup daerah esports. Beberapa orang kemungkinan belum sadar jika esports tidak dapat disejajarkan dengan satu cabang olahraga. Esports tersebut ialah olahraga yang memiliki banyak cabang/game.

Dari platform-nya saja telah ada 3, yakni PC, console, serta mobile. Belum juga bila kita bicara masalah game esports-nya yang sampai beberapa puluh banyaknya dari LoL, Dota 2, R6S, Assetto Corsa, rFactor 2, Tekken, Street Fighter, FIFA, PES, MLBB, FreeFire, PUBGM, serta kawan-kawannya.

Kemungkinan memang basis mobile yang sekarang sedang naik daun tetapi bukan bermakna lainnya tidak penting untuk dipelajari. Disamping itu, banyak pula yang kemungkinan tidak mengerti perbedaannya industri game serta esports — walau memang keduanya berkaitan erat. Saya serta dengar salah satunya tokoh politik yang menjelaskan jika pemain esports sampai 60 juta orang (waktu diwawancarai salah satunya tv swasta).

Buat yang belum mengetahui, kenyataannya, pasar esports itu tidak sama dengan pasar gamer. Sedang angka 60 juta barusan ialah jumlahnya pasar gamer (berdasar data dari Statista). Walau sebenarnya jumlahnya pasar esports itu lebih kecil dari pasar gamer — minimal Lucas Mao, Director of Operations dari Moonton yang Commissioner of MPL Indonesia sepakat dengan ini.

Dari bagian game sendiri terdapat beberapa kelompok seperti game singleplayer serta multiplayer yang membuat arah bermain game-nya jadi tidak sama. Saya mengatakan dengan arti competitive versus. leisure. Itu barusan masih secuil dari segudang pengetahuan yang, baiknya, harus dimengerti buat mereka-mereka yang ingin terjun di sini.

Belum juga masalah kemampuan serta expertise bagian yang Anda tekuni. Sehubungan saya sudah jadi penulis/jurnalis semenjak 2008, cukup banyak yang mengatakan ke saya, “menulis itu kan mudah…” Kenyataannya, satu kali lagi bila bisa saya tegaskan, tidak ada yang kemampuan yang gampang bila ingin dikendalikan.

Bila yang disebut menulis ialah potensi fundamen seperti yang Anda dalami di SD, kemungkinan hanya seputar 4% masyarakat Indonesia yang buta huruf — minimal dari data tahun 2017. Tetapi menulis dengan profesional bukan sekedar hanya mengerti makna kata atau kalimat… Ketrampilan lain, memasak, contohnya, pun tidak segampang yang dipikirkan. Masak air atau mie instant itu kemungkinan memang simpel tetapi pasti tidak sama tuntutannya untuk jadi koki hotel atau serta sekelas Gordon Ramsay atau Joël Robuchon.

Pasar gaming Indonesia pada 2017 | Sumber: Newzoo

Stairway to heaven or highway to hell?

Sesudah 4 hal yang penting diakui barusan, saya akan memberi ‘bocoran’ ke kantor mana Anda dapat mengawali membuat profesi di esports. Satu hal yang tentu, sisi kesempatan ini memang seluruhnya opini pribadi saya, berdasar pengalaman saya kenal banyaknya beberapa orang yang kerja di industri ini.

Bila Anda ialah seorang fresh graduate atau serta masih kuliah, Anda dapat coba ke RevivalTV. Masalahnya teman-teman saya disana memang benar ada yang masih kuliah atau tidak pernah kerja kantoran di industri lain awalnya. RevivalTV memiliki banyak divisi dari mulai moment organizer, media, atau talenta management.

Sebaliknya, bila Anda telah kantongi pengalaman kerja di luar industri esports, kemungkinan Anda lebih pas masuk bersama dengan MET Indonesia. Sebab, sedikit teman-teman saya di MET yang masih kuliah atau fresh graduate seperti di RevivalTV barusan. Tidak hanya jadi moment organizer, MET Indonesia memiliki talenta management.

Alasan barusan hanya hanya teman-teman saya yang saya ketahui kerja disana. Sebab, anggapan saya saja, Anda yang telah memiliki pengalaman profesional kemungkinan semakin lebih pas kerja dengan rekanan yang memiliki pengalaman. Tetapi, bisa saja anggapan saya salah serta Anda memiliki opsi yang tidak sama.

Lantas bagaimana bila Anda ingin kerja di team esports? Nah, jika ini saya tidak tahu ketidaksamaan yang menonjol antar team-team esports di Indonesia seperti dalam di antara RevivalTV serta MET. Masalah fresh graduate atau bukan untuk di team esports, kelihatannya bergantung dengan tempat yang ingin Anda incar. Akan tetapi, ada banyak info yang saya ketahui dari beberapa team esports yang kemungkinan dapat Anda buat jadi alasan.

EVOS Esports ialah organisasi esports dengan karyawan paling banyak di Indonesia. Sedang RRQ adalah organisasi esports yang ada dibawah naungan MidPlaza Holding. Di lain sisi, Aura Esports memperoleh modal awalannya dari Wicaksana Grup. BOOM Esports ialah yang paling ‘idealis’ dengan PC gaming serta konsentrasi pada game-game esports yang mainstream di barat (Dota 2, CS:GO, R6S). Sedang pemilik team Alter Ego pemilik moment organizer namanya Supreme League.

Lantas bagaimana triknya memperoleh info lowongan pekerjaan di esports? Sayangnya, info lowongan kerja di esports masih sedikit di beberapa situs lowongan kerja. Saya cuma temukan 15 lowongan di JobStreet, 7 lowongan di Kalibrr, 6 lowongan di Glints, serta 4 lowongan di LinkedIn (minimal saya membuat artikel ini). Media sosial semasing aktor industri esports seringkali buka lowongan melalui sana. Jadi, Anda yang tertarik kerja dapat juga mulai follow akun-akun itu.

Kemungkinan memang esports sendiri belum kebanyakan menyerap tenaga kerja seperti industri yang lain tetapi cukup banyak lowongan kerja di esports yang cuma melalui belakang, alias dari mulut ke mulut.

Lantas bagaimana dengan mereka-mereka yang ingin mengawali usaha sendiri di esports? Apa keliatannya menjanjikan? Ditambah lagi mengingat terakhir terdapat beberapa team-team esports baru banyak muncul seperti The Pillars garapan Ariel Noah atau Tim Elvo dari Andrew Tobias. Kemungkinan lain waktu kita akan ulas hal tersebut serta saya akan ajak beberapa owner team esports untuk share gagasannya.

Roles in the META

Sesudah tempat kerja, tempat apapun yang ada di industri esports Indonesia bila Anda ingin berkarier di sini?

Well, buat yang belum mengetahuinya, esports dapat juga disebut jadi industri hiburan. Jadi, beberapa pekerjaan untuk produksi content tetap diperlukan di tiap aktor industri esports — dari team, moment organizer, penerbit/publisher, ditambah lagi media. Content video kemungkinan jadi format paling favorite sekarang, mengingat kesemua orang kelihatannya ingin kaya raya dari YouTube. Content gambar (image) tetap dibuat oleh semua aktor industri esports — mengingat tiap mereka tentu memiliki sosial media yang umumnya didalamnya beberapa gambar.

Bagaimana bila Anda senang atau dapat menulis? Selamat, Anda ialah anak tiri di industri content zaman milenial dengan pasar Gen Z… Wawkwakwakaw… Tidak hanya direndahkan oleh beberapa orang yang serta tidak dapat memperbedakan di antara kata depan serta kata info atau di antara frasa serta kalimat, kemungkinan, Anda akan dibayar murah — sebelum kemungkinan pada akhirnya temukan beberapa orang yang menghormati ketrampilan menulis Anda barusan. Jadi, selamat berusaha kawan! Nyahaha…

Tidak hanya beberapa pekerja kreatif pembuat content, moment kemungkinan dapat disebut jadi hasil produksi esports yang terbesar biayanya dan usaha yang diperlukan. Jadi, moment , setahu saya, memerlukan banyak beberapa pekerja; dari mulai mereka-mereka yang jalankan dari bagian turnamennya, pastikan semua berjalan tanpa ada masalah waktu di acara, atau bekerja menyiarkan kompetisi itu.

Disamping itu, profesi-profesi lain yang perlu ketrampilan detil sebetulnya ada banyak diperlukan — seperti beberapa orang (digital) marketing yang mengetahui lebih dari sebatas eksploitasi gadis-gadis cantik jadi penarik massa, beberapa orang sales, usaha, humas, SDM (HRD), atau beberapa posisi yang lain yang bekerja seperti kantor di luar esports. Akan tetapi, menurut saya, beberapa posisi barusan tidak menarik SDM sekitar untuk moment atau content.

Esports is young and dangerous?

Paling akhir, industri esports di Indonesia ialah industri yang sejumlah besar diisi oleh beberapa anak muda generasi milenial. Ini jadi memberi keuntungan serta kekurangan tertentu.

Salah satunya kekurangan terbesarnya ialah, sebab umur beberapa pekerjanya yang masih terbilang muda serta cuma kenal industri esports, ada banyak wacana serta ketrampilan yang dapat digali di luar atau dalam industri esports. Harus diakui jika ketrampilan serta wacana barusan tidak sedangkal yang dipikirkan. Baik dari pelacak kerja atau pemberi kerjanya, saya anggap kita harus telah mulai mengerti begitu krusialnya ketrampilan serta wacana pada kelangsungan satu indsutri — tidak hanya masalah spirit.

Akan tetapi, bila lihat keadaan sekarang dengan terbatasnya wacana serta ketrampilan barusan, kekuatan esports Indonesia bermakna dapat juga disebut besar — sepanjang memang kekurangan barusan diakui serta dibenahi.

Di lain sisi, ada yang katakan esports is meritocratic. Industri yang diisi dengan beberapa generasi muda seperti esports memang condong memakai skema meritokrasi. Skema semacam ini memang jadi mendegradasi nilai-nilai lama seperti senioritas, background pendidikan, serta kawan-kawannya. Belum juga, di zaman post-postmodernism ini, menyangsikan expertise (atau serta merasakan jadi ahli dengan memberi komentar semua kejadian yang berlangsung melalui media sosial) seolah jadi trend filosofi baru buat generasi muda.

Saya pribadi sepakat dengan skema meritokrasi, sepanjang semasing dari kita dapat meminimalkan bias-bias kognitif yang kemungkinan berlangsung waktu kita memandang suatu hal serta memutuskan. Ditambah lagi, kenyataannya, tidak semua nilai-nilai lama itu harus dibiarkan serta tidak semua yang tua itu tidak memiliki nilai pragmatis.

Jadi penutup, kemungkinan memang saya old-school masalah ini tetapi, saya mengamini benar bila salah satunya tolak ukur untuk mengukur keberhasilan profesi atau industri dengan umur berapa lama dia dapat bertahan.

Buat saya, orang yang sukses bukan orang yang bisa saja hype sekejap, memiliki juta-an followers, subscribers, atau apa saja namanya; tetapi selanjutnya tidak berkaitan 10 tahun ke depan. Demikian dengan industri esports ini. Semua jenis gegap gempita serta hedonisme yang dapat disuguhi, tidak akan ada berarti bila dia tidak tetap bertahan untuk waktu yang lama.